RENCANA INDONESIA B20, B30 HINGGA B100 yang membuat gerah benua biru

biodiesel/biosolar dengan 20% minyak nabati

Pemerintah mulai mengharuskan pemanfaatan bahan bakar biodiesel B20 pada awal bulan September 2018.

Biodiesel B20 merupakan bahan bakar diesel kombinasi minyak bumi( petroleum diesel) 80% dengan bahan Fatty Acid Methyl Ester( FAME) sebesar 20%.

Mandatori pemanfaatan Biodiesel B20 ini menggambarkan bagian dari cerita panjang penerapan Bahan Bakar Nabati( BBN) di Indonesia.

Aplikasi awal biodiesel di Tanah Air berawal pada 2004 pada saat biosolar dengan kombinasi FAME 10%( biodiesel B10) diluncurkan di Indonesia.

Semenjak disaat itu pemerintah terus menaikkan kombinasi FAME ini menjadi 15%( biodiesel B15) pada tahun 2015.

Mandatori pemanfaatan biodiesel B20 ini pula bukan langkah akhir sebab rencananya pemerintah bakal mengharuskan pemakaian biodiesel B30 pada 2020. Keinginan untuk memakai bahan bakar nabati untuk mesin diesel ini sesungguhnya telah timbul semenjak Rudolf Diesel menciptakan mesin diesel pertamanya pada 1893. Dia berusaha berbagai alternatif bahan bakar untuk menggerakan mesin diesel ciptaannya, mulai dari coal dust hingga minyak nabati.

Kita kerap mendengar sebutan B20, B30 sampai B100 yang kerap digembar- gemborkan oleh presiden kita Joko Widodo akhir- akhir ini.

Sebutan B20, B30 sampai B100, khususnya B20 sebutan ini timbul dalam visi misi kerja Joko Widodo.

Dengan demikian B20 berarti 20% biodiesel dicampur dengan 80% solar.

B30 serta B100 begitu pula apabila B30 berarti 30% biodiesel dicampur dengan 70% solar. Biodiesel sendiri ialah salah satu dari 3 bahan bakar nabati yang bisa digunakan sebagai bahan energi alternatif bahan bakar minyak kategori diesel salah satunya solar. Tidak hanya Biodiesel, Pemerintah juga sudah mengatur BBN tipe yang lain yaitu bioetanol serta minyak nabati murni.

Untuk penggunaannya, Biodiesel serta Bioetanol bakal dicampurkan dengan bahan bakar fosil pada persentase tertentu. Dalam perihal ini, buat biodiesel dicampurkan dengan solar, sebaliknya bioetanol dicampurkan dengan bensin.

Disaat ini pemerintah juga aktif mendesak pengembangan BBN biohidrokarbon yang karakteristiknya sama maupun terlebih lagi lebih baik daripada senyawa hidrokarbon/ BBM berbasis fosil. BBN Biohidrokarbon yang ramah lingkungan ini bisa langsung digunakan( drop- in) sebagai substitusi BBM fosil

tanpa butuh penyesuaian mesin kendaraan. BBN biohidrokarbon ini bisa dibedakan jadi green- gasoline, green- diesel, serta bioavtur. Pemakaian biodiesel bisa menaikkan kualitas lingkungan sebab bersifat degradable( gampang terurai) serta emisi yang dikeluarkan lebih rendah dari emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil.

Bersumber pada hasil Laporan Kajian serta Uji Pemanfaatan Biodiesel 20%( B20) yang dicoba oleh Ditjen EBTKE bersama sebagian stakeholder terkait pada tahun 2014, diperoleh hasil uji emisi sebagai berikut:

1. Kendaraan berbahan bakar B20 menghasilkan emisi CO yang lebih rendah dibanding kendaraan B0. Perihal ini dipengaruhi oleh lebih tingginya angka cetane serta kandungan oksigen dalam B20 sehingga menekan terjadinya pembakaran yang lebih sempurna.

2. Kendaraan berbahan bakar B20 menghasilkan emisi Total Hydrocarbon( THC) yang lebih rendah dibandingkankendaraan B0. Perihal ini disebabkan pembakaran yang lebih baik pada kendaraan

Diuraikan dari DirJen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi( EBTKE), biodiesel biasanya terbuat melalui reaksi metanolisis ataupun transesterifikasi antara minyak nabati dengan metanol yang dibantu katalis basa. titik hasil dari proses ini berbentuk Ester metil asam lemak( fatty acid methyl Ester/ FAME).

Tetapi apabila kandungan asam lemak bebas pada minyak nabati melebihi 5% maka perlu dilakukan reaksi Esterfikasi terlebih dulu. Untuk ilustrasinya Anda dapat melihat skema proses pembuatan yang sudah dibuat oleh Dirjen ebtke di bawah ini.

diagram pengolahan B20


Nah serta pada disaat ini, bahan baku biodiesel di Indonesia yang berasal dari nabati yaitu minyak kelapa sawit alias CPO akan tetapi tumbuhan lain seperti metode, jarak pagar, kemiri Sunan, kemiri Tiongkok, serta nyamplung juga berpotensi diolah jadi biodiesel.

Untuk saat ini lebih difokuskan kepada biodiesel yang berasal bahan baku minyak kelapa sawit ataupun CPO.

No comments:

Post a Comment