Pengaruh kerusakan buah kelapa sawit terhadap kandungan FFA dan rendement produksi minyak kelapa sawit / CPO

kejernihan minyak sawit berdasarkan kandungan ffa

Indonesia merupakan negara dengan luas perkebunan dan hasil produsen CPO (crude oil Palm) nomor satu di dunia yakni sekitar 24 juta ton pada 2012. Selain menjadi pendapatan negara produksi CPO ini sekaligus memenuhi sekitar 47% kebutuhan minyak nabati dunia. Selain itu, manfaat yang ada pada perkebunan kelapa sawit yaitu terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang hidup di sekitar wilayah perkebunan, yang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian dan taraf hidup masyarakat Indonesia secara berkelanjutan lebih baik.

buah yang telat saat panen
Tantangan saat ini yang dialami Indonesia adalah untuk menjaga kepercayaan konsumen dari isu-isu negatif tentang kelapa sawit yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Uni Eropa terhadap komoditas CPO tersebut, sehingga tetap mampu memproduksi CPO dengan berkualitas tinggi yang mendapat sertifikat secara nasional dan internasional. Indonesia juga dapat bersaing di minyak nabati dunia dan saat ini Indonesia sedang melakukan perubahan untuk melakukan inovasi terhadap konsumsi minyak nabati terutama CPO itu untuk dijadikan bahan bakar minyak yang terbarukan, yaitu biodiesel atau biosolar dan ini sedang Reseach untuk bioavtur.
Mutu CPO dapat dilihat secara kuantitas dan kualitas produksi buah dengan kuantitas baik akan menghasilkan rendemen CPO rata-rata di Kisaran 23,2 hingga 27,4% tergantung dengan kondisi lahan dan kontur geologinya. Dengan kadar asam lemak bebas (ALB) atau free Fatty acid (FFA) kurang dari 3%. Rendemen minyak yang tinggi didapatkan dengan cara pengolahan buah kelapa sawit yang matang karena buah yang matang memiliki kandungan minyak terbanyak atau rendemen minyak tertinggi dari pada jenis atau kelompok maupun yang lainnya. Semakin tinggi kandungan FFA dari produksi CPO tersebut maka semakin rendah pula kualitas CPO tersebut. Pengaruh rendah atau tingginya  kualitas CPO dan rendemen terletak pada mutu buah yang dipanen, jika buah terlambat dipanen atau diolah karena pengangkutan restan dan lain sebagainya itu dapat meningkatkan  FFA itu sendiri.

buah rusak ketika di penerimaan di pabrik kelapa sawit
Selain itu penanganan yang kasar juga dapat meningkatkan laju pembentukan FFA karena luka pada buah akan menstimulasikan konversi molekul minyak menjadi FFA dengan laju yang sangat tinggi. Pembentukan FFA terbanyak adalah saat di lapangan atau sebelum mulai diolah di pabrik kelapa sawit (PKS). Karena pada saat pengolahan di pabrik kelapa sawit kenaikan FFA hanya 0,1% atau paling tinggi 0,3 sampai dengan 0,5% pada pengolahan PKS yang kurang terkendali pengawasannya,  kenaikan FFA pada saat penimbunan atau pengapalan hingga sampai ke pengolahan itu dapat meningkatkan FFA yang cepat. Disitu harus ada penanganan yang lebih serius yang mengutamakan kelancaran pengangkutan hingga ke pabrik kelapa sawit untuk segera diproses, tujuan utamanya untuk mengurangi kenaikan FFA yang terlalu tinggi. Mutu buah yang buruk dapat meningkatkan efek panas secara signifikan pada saat buah tersebut diolah menjadi CPO secara bersamaan berdasarkan prediksi persamaan regresi linear kadar FFA dalam CPO akan meningkat sebesar 0,04% setiap pengolahan hingga 1% terhadap buah-buah yang bermutu buruk. Pengolahan buah busuk 1% akan meningkatkan kandungan FFA sebesar 0,0 64% apabila dianalisis secara parsial buah busuk atau janjangan kosong adalah mutu buah yang memiliki pengaruh terbesar yang meningkatkan kandungan FFA dalam CPO.

Buah yang dipanen tidak segera diolah pada hari yang sama atau terlambat angkut sehingga mengalami penundaan atau penimbunan baik di kebun maupun di loading ramp PKS itu akan menjadi pemicu naiknya kadar FFA. Karena rotasi panen yang tinggi kenaikan FFA akibat buah luka luka pada buah dapat timbul karena penanganan buah yang kasar, kontaminasi patogen atau buah sakit dan kerusakan struktur buah karena hama tikus luka buah yang diiringi pembentukan FFA berasal dari perlukaan selama pengumpulan dan pengangkutan ke PKS, pembentukan FFA dalam buah dimulai dengan pecahnya dinding sel yang mengandung minyak sehingga Enzim lipolitik yang terdapat pada protoplasma bekerja menghidrolisis lemak menjadi asam lemak yang akhirnya membebaskan FFA terbentuk. Titik reaksi tersebut akan berlangsung sangat cepat akan tetapi buah yang tidak luka FFA hanya naik sekitar 0,2% selama 4 hari. Enzim yang yang menghidrolisis akan dinonaktifkan pada suhu 60 derajat Celcius pada waktu perebusan buah dalam sterilizer. Buah rusak  dapat disebabkan salah satunya oleh serangan hama tikus dengan mengonsumsi daging buah atau mesocraps nya antara 5,94 - 13,70 gram per hari per ekor atau setara dengan kehilangan minyak CPO berkisar dalam antara 327,96 - 962,38 kg per hektar per tahun.

perbedaan buah normal dan abnormal
Buah abnormal adalah kelompok buah yang memiliki freddset yang rendah atau jumlah buah partenokarpi nya lebih banyak daripada buah yang jadi sempurna. buah tidak sempurna disebabkan karena penyerbukan tidak sempurna atau tidak dapat dilakukan karena posisi buah yang terjepit oleh pelepah sehingga menghasilkan buah dengan kandungan minyak yang rendah serta tidak memiliki cangkang dan endosperm. Penurunan rendemen CPO secara signifikan disebabkan oleh pengolahan buah bermutu buruk secara bersamaan setiap pengolahan 1% buah bermutu buruk akan mengurangi rendemen minyak sebesar 0,4%. Model persamaan regresi linear dapat 82,4% menjelaskan secara tepat bahwa penurunan rendemen CPO disebabkan karena pengolahan buah bermutu buruk sisanya 17,6% penurunan dari rumen disebabkan oleh faktor lain diluar model persamaan.
buah sakit
Sebab-sebab lain kehilangan hasil yang diamati di lapangan antara lain brondolan yang tercecer di pelepah, brondolan tercecer yang terjadi di tph, brondolan tercecer yang terjadi di jalan-jalan koleksi saat pengangkutan dan TBS (tandan buah segar) jatuh saat pengangkutan. kenaikan FFA dalam CPO karena dampak restan disebabkan oleh pengangkutan buah yang terlambat, pengolahan buah yang terlambat, sehingga terjadi kondisi di mana kenaikan FFA itu meningkat. Apalagi ketika terkena curahan air hujan, maka akan sangat mempercepat proses hidrolisis pada buah. Besarnya pengaruh restan bervariasi tergantung dari umur panen, semakin lama terlambat angkut atau tertimbun semakin memperburuk mutu buah sekaligus meningkatkan kandungan FFA dalam CPO.

Jadi mutu produksi dilihat dari terpenuhinya rendemen CPO minimal sesuai standar perusahaan masing-masing dan kandungan FFA dalam CPO kurang dari 3% untuk standar internasional dan standar nasional Indonesia kurang dari 5%. Faktor-faktor penyebabnya kelompok mutu buah yang buruk yang terpanen yang diolah di pabrik pengolahan dapat meningkatkan kandungan FFA di dalam CPO sekaligus menurunkan rendement CPO produksi. Mutu buah yang buruk dipengaruhi oleh lamanya penundaan buah saat diolah atau menjadi restan baik saat berada pada batang kelapa sawit berada di tempat pengumpulan hasil serta di loading remp PKS juga mengakibatkan perubahan pada buah semakin lama penundaan buah untuk diolah semakin banyak pula risiko buah itu terluka.  Semakin memperburuk mutu buah hingga meningkatkan kandungan FFA pada CPO sebesar 0,94% setiap bertambahnya umur tunda 1 Hari 24 Jam.

Saling Balas "perang" Indonesia VS Uni Eropa semakin memuncak

Indonesia VS Uni Eropa


Lagi lagi Indonesia VS Uni Eropa. Indonesia dan malaysia menuding pemboikotan terhadap minyak sawit yang dilakukan Uni Eropa adalah upaya untuk melindungi kepentingan pasar domestiknya, yaitu minyak nabati dari minyak bunga matahari dari serangan minyak nabati kelapa sawit yang relatif murah. Perselisihan Indonesia dan Uni Eropa soal minyak sawit atau crude palm oil/CPO semakin memanas.Pasalnya Uni Eropa telah resmi memasang tarif bea masuk untuk produk biodiesel dari Indonesia sebesar 8 - 18%.
Nah sekarang giliran Indonesia yang akan melarang produk-produk berlabel bebas minyak sawit atau palm oil free dijual di supermarket atau di gerai retail lainnya di Indonesia. Kampanye yang dilakukan Uni Eropa untuk menolak produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebenarnya bukan hal baru lagi, ini sudah dimulai selama tahun-tahun terakhir. Kampanye ini gencar dilakukan oleh Uni Eropa yang membawa lembaga lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pemerintah di Uni Eropa.
Alasan Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang disebut sebagai penyebab deforestasi, peningkatan emisi karbon, dan mengancam habitat hewan-hewan langka seperti orangutan dan harimau dan sebagainya yang dilindungi. Sementara itu, produsen minyak sawit seperti Indonesia dan Malaysia menuding balik kampanye tersebut merupakan upaya Uni Eropa untuk melindungi kepentingan mereka di pasar domestiknya dari serbuan minyak sawit yang berharga lebih murah.
Menteri perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita memastikan pemerintah Indonesia akan membalas kebijakan Uni Eropa tersebut. Bahkan untuk saat ini balasan tengah disiapkan oleh pemerintah yakni berupa tarif bea masuk untuk produk olahan susu dari Uni Eropa.
Menteri Perdagangan Indonesia 
" kami pasti akan terapkan dan kami sudah meminta importir untuk pengalihan sumber " ujar enggartiasto Lukita di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Selasa 13 Agustus 2019.
Sebelumny  Enggar mengusulkan tarif bea masuk yaitu sebesar 20 - 25%   untuk produk olahan susu dari Uni Eropa.
Pengalihan sumber bisa dilakukan misalnya  dari Australia, India, New Zealand, atau Amerika Serikat. Belum terang kapan kemungkinan balasan akan diterapkan namun Kementerian Perdagangan menyarankan importir untuk mempercepat pergeseran impor bahan baku dari olahan susu. Meski demikian pergeseran impor produk olahan susu harus dilakukan dengan kalkulasi yang tepat agar biaya produksi yang menggunakan bahan baku tersebut tetap terjaga di tingkat konsumen pun harga terjangkau. Enggar menyatakan pihaknya akan memastikan perhitungan biaya produksi sesuai prosedur sehingga tidak terjadi kenaikan harga terhadap produk terkait.  "kami pastikan tidak memberikan kontribusi terhadap inflasi" ujarnya. Berikut rincian perusahaan-perusahaan yang terkena bea masuk Uni Eropa untuk perusahaan biodiesel nasional yaitu PT Ciliandra Perkasa yaitu terkena sebesar 8%, PT Musim Mas Group terkena sebesar 16,3% PT Permata group terkena 18%, PT Wilmar Group terkenal 15,7%, serta perusahaan lainnya terkena 18%.


Para Pemimpin Uni Eropa bertemu di KTT di brussel, Belgia


Presiden komisi Uni Eropa Jean Claude Juncker telah menandatangani kebijakan terkait di Brussel Belgia pada Senin 12 Agustus 2019, kebijakan itu berlaku 1 hari setelah dipublikasikan di jurnal resmi Uni Eropa sehingga kebijakan tersebut efektif berjalan sejak Selasa 13 September 2019. Perusahaan biodiesel Indonesia yang keberatan terhadap kebijakan tersebut bisa memberikan jawaban tertulis dalam kurun waktu 15 hari setelah regulasi berjalan, komisi Uni Eropa akan memberikan respon terhadap 15 hari kerja tersebut komisi bisa meminta waktu tambahan untuk menentukan permintaan perusahaan apakah diterima atau ditolak

Buntut Panjang dari kritik Diplomatik MALAYSIA VS INDIA


Baru-baru ini India dikabarkan mengeluarkan perintah untuk para pelaku usaha yang bahan baku minyak sawit untuk menghentikan impor minyak sawit mentah atau CPO  dari Malaysia. Para importir minyak sawit mentah India dikabarkan menghentikan semua pemesanan dari pemasok utama Malaysia setelah pemerintah Negeri Bollywood itu mendesak untuk memboikot komoditas tersebut dari Malaysia terkait konflik diplomatik kedua negara. Hal itu diungkapkan dari sumber para pelaku industri pemerintah India sebagaimana dikutip dari reuters Senin malam 13 Januari 2020.

Sejak dikeluarkannya peringatan pekan lalu, bersamaan dengan itu muncul langkah New Delhi membatasi impor sawit dan olein sawit atau palm olein setelah Perdana Menteri Malaysia mengkritik tindakan India yang invansi khasmir dan undang-undang Kewarganegaraan India yang baru.
Ternyata kritikan tersebut berbuntut panjang secara diplomatis, kedua negara tersebut bahkan para importir India tidak membeli lagi minyak sawit mentah atau olein sawit dari Malaysia. Salah seorang sumber mengatakan "secara resmi tidak ada larangan impor minyak sawit mentah dari Malaysia, tetapi tidak ada yang membeli karena intruksi pemerintah." sumber tersebut menambahkan bahwa para pembeli kini mengimpor dari Indonesia meskipun membayar harga premium dari Malaysia selisih US$ 10.

India mengimpor minyak sawit terbesar di dunia melebihi dari 9 juta ton per tahun terutama dari Indonesia dan Malaysia. Dengan larangan impor olahan minyak sawit tersebut maka produksi minyak sawit mentah Malaysia harus bersaing dengan CPO Indonesia. Dengan demikian ada potensi yang akan terjadi yaitu perang harga mengingat harga CPO Indonesia masih lebih kompetitif. Meski demikian Pemerintah Hindia belum memberikan pernyataan publik secara resmi terkait minyak sawit malaysia. Kementerian Perdagangan India juga tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari pers atas masalah tersebut. Kementerian industri primer Malaysia Teresa Kok, yang bertanggung jawab atas industri kelapa sawit juga menolak untuk berkomentar.

Sebanyak 4 sumber trader mengungkapkan para penyuling dan pedagang CPO ini diyakini mengalihkan hampir semua pembelian minyak kelapa sawit ke Indonesia, meskipun membayar lebih mahal yaitu sebesar 10 US dollar per ton dari harga CPO Malaysia, untuk pengiriman Februari 2020 berada di level US Dollar 800 per ton berbasis  FOB(free on board) lebih murah dibandingkan Indonesia yaitu di Kisaran US Dollar 810 per ton.
Salah seorang penyuling CPO yang berbasis di Kolkata mengungkapkan "seperti orang lain, kami membayar harga premium atau lebih mahal untuk pasokan dari Indonesia, untuk keuntungan lebih kecil dan kami tidak bisa berjudi".

Menurut sumber diplomatik lah yang menjadi alasan atas tindakan tersebut itu pemboikotan impor CPO dari Malaysia. Pernyataan Perdana Menteri Malaysia yang mengkritik tindakan India terhadap Kashmir dan undang-undang Kewarganegaraan India baru yang dituding anti Islam menyebabkan hal ini terjadi.

"Jangan datang kepada kami, jika pengiriman Anda macet" kata seorang sumber reuters lainnya yang merupakan seorang pedagang di Mumbai. Di 2019 India membeli 4,4 juta ton minyak sawit, pembelian sekarang mengimpor dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan bisnis mereka di bursa berjangka Malaysia CPO ditutup turun 1,4% dari perdagangan kemarin.

SEJARAH KELAPA SAWIT DI INDONESIA

Kelapa sawit  bisa sampai di Indonesia untuk pertama kali didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda  berasal dari Afrika pada tahun 1848. Mereka melakukan penanaman biji sawit di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di daerah  Deli Sumatera Utara, pada tahun 1870-an. Pada masa yang bersamaan dengan kegiatan tersebut, maka  meningkatlah permintaan minyak nabati  yang di akibat adanya Revolusi Industri besar-besaran pada pertengahan abad ke-19. Dari sinilah kemudian muncul ide di kalangan pemerintah hindia belanda pada saat itu untuk membuat perkebunan kelapa sawit dengan bibit yang berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit “Deli Dura”.
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet sebagai perintisnya,ia adalah seorang Belgia, lalu diikuti oleh K. Schadt.

Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya(Malaysia)  pada tahun 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Sementara di benua Afrika bagian Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka produksi tahun 1940.
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Kemudian ketika masuk masa  Orde Baru mulailah diadakan perluasan areal penanaman perkebunan kelapa sawit digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternative yang terbarukan.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.




Tipe kelapa sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: Elaeis guineensis dan Elaeis oleifera. Jenis yang pertama adalah jenis yang terluas dibudidayakan orang. Dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing.
1. Elaeis guineensis adalah jenis yang  memiliki produksi yang sangat tinggi, dan
2. Elaeis oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah.  kemudian banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan mudah dipanen.
E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik. Di penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari
    Dura,
  • Pisifera, dan
  • Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%.

Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.

Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil, sehingga tetap menghasilkan inti (kernel). Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.
Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

Hasil tanaman


Minyak sawit banyak digunakan sebagai bahan baku dalam produksi minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.

Bagian daging buah yang diolah  menghasilkan minyak kelapa sawit mentah CPO (Crude Oil Palm)
 yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
Minyak inti (kernel) menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin.

Baru baru ini di Indonesia sedang digalakkan dengan adanya program Biodiesel/Biosolar. yang sudah sukses berjalan adalah B20 yang artinya komposisi bio solar ini 80% solar minyak bumi dan dicampur 20% minyak nabati. dalam hal ini minyak nabati yang mudah didapat adah minyak kelapa sawit. dan sedang berlanjut program pemerintah untuk ke B30, dan diharapkan mampu menyerap hasil produksi minyak kelapa sawit dalam negeri dan  mendongkrak harga minyak sawit yang sedang bergejolak.

Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam tanki pengendapan sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

Pengertian botani

Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak ketika masih kecil, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Syarat hidup



Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.